“Hari Ayah?” Kadang rasanya aneh bagiku. Bukan karena aku tidak menghargainya, tetapi karena menjadi ayah selama ini terasa seperti perjalanan sunyi. Peran yang lebih sering dijalani dalam diam, dalam tanggung jawab harian, dalam kerja keras yang tidak perlu banyak kata. Tetapi hari ini, rasa aneh itu berubah menjadi sesuatu yang hangat.
Siang ini, anak laki-lakiku mengirim video singkat yang direkam bersama Ibunya. Suaranya sedikit malu, tetapi tulus saat mengucapkan, “Selamat Hari Ayah.” Ucapan yang sederhana, tetapi mampu mengetuk hati yang mungkin selama ini terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Aku memutarnya berulang kali, mencoba menangkap ketulusannya yang jernih.
Sore hari sepulang kerja, anak perempuanku berlari menyambutku. Ia minta digendong dan memelukku erat. Dengan suara lantangnya ia berkata, “Selamat Hari Ayah.” Pelukan kecil itu membuat semua lelah seketika luruh. Dalam momen itu aku merasa benar-benar dihargai, benar-benar dikenal sebagai ayah.
Dari peristiwa sederhana itu, saya kembali merenung tentang apa sebenarnya arti menjadi seorang ayah. Bahwa peran ini bukan hanya soal mencari nafkah atau memenuhi kebutuhan mereka, tetapi tentang menjadi pelindung, menjadi guru, dan menjadi teman dalam perjalanan hidup mereka. Setiap kata yang saya ucapkan, setiap sikap yang saya tunjukkan, perlahan akan menjadi teladan yang mereka bawa sepanjang hidup.
Aku sadar bahwa untuk menjadi ayah yang baik, aku harus terlebih dulu mengenal diriku sendiri. Aku harus menyadari kelemahan, memperbaiki kekurangan, dan mengelola emosi. Jika aku mampu menahan amarah, bersabar, dan memberi kasih sayang dengan tulus, anak-anakku akan melihat dan belajar dari teladan yang nyata, bukan hanya dari nasihat.
Hari Ayah ini bukan menjadi ajang untuk merasa bangga, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Aku berdoa agar setiap langkah yang kuambil membawa mereka lebih dekat pada kebaikan, pada iman, dan pada keberkahan hidup. Semoga Allah menuntunku untuk menjadi hamba yang baik, ayah yang sabar, dan teladan yang menenangkan hati mereka.
Pada akhirnya, kedua anakku adalah amanah. Amanah yang berat namun indah, melelahkan namun membahagiakan, menuntut tetapi juga menguatkan. Dan mungkin, meski awalnya Hari Ayah terasa aneh bagiku, hari ini aku tahu bahwa keanehan itu datang dari rasa yang tumbuh pelan-pelan: dari cinta seorang ayah yang semakin dalam seiring waktu.






