Ada satu momen yang menarik bagi saya saat menemani anak perempuan saya, Ghaida saat sedang belajar berenang di tempat les renang JavaSwimming yang bertempat di The Fountain Water Park, Ungaran. Minggu itu (28 September 2025), awalnya kegiatan les berjalan seperti biasa. Ghaida menjalani sesi belajar renang bersama pelatihnya, Mbak Difa. Di bawah bimbingannya, Adik menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Di awal mengikuti les, dia benar-benar takut air hingga saat ini sudah berkembang sangat baik hingga terbiasa dengan air dan mulai merambah ke teknik gerakan dasar gaya bebas dan pernafasan. Kami melihat Mbak Difa mampu mengajar anak saya dengan sangat baik. Dia sosok yang penuh kesabaran dan ketelatenan.
Yang paling menarik perhatian saya adalah cara komunikasi yang dibangun Mbak Difa dengan Ghaida. Ia tidak hanya memberi instruksi, tetapi juga menjalin percakapan yang membuat anak saya nyaman. Mungkin inilah kunci kenapa Ghaida begitu cepat memahami setiap gerakan, teknik, dan disiplin yang ditanamkan. Ada ikatan emosional yang unik, hubungan seorang guru muda dengan murid kecilnya, yang lebih mirip kakak-adik daripada sekadar pelatih dan atlet.

Mbak Difa juga berperan bukan hanya sebagai pelatih renang, tetapi sebagai sosok yang mampu menumbuhkan rasa percaya diri pada Ghaida. Hal ini penting dalam perkembangan anak kami. Dia belajar bukan hanya dari instruksi, tetapi juga dari sikap, komunikasi, dan teladan gurunya.
Namun, di balik semua perkembangan indah itu, ada sebuah kabar yang akhirnya harus kami terima…
Di hari itu, Mbak Difa menyampaikan permohonan maaf kepada ibunya Ghaida (Nerlinda) dan menyampaikan kabar bahwa mulai minggu depan, ia tidak bisa lagi mendampingi Adik Ghaida belajar renang. Alasannya, orang tuanya meminta ia untuk fokus pada pendidikannya di kelas 3 SMA, karena akan menghadapi ujian dan persiapan penting lainnya.
Awalnya, Ghaida tampak biasa saja saat mendengar kabar itu. Namun, entah bagaimana, ketika ia sedang duduk santai di pangkuan ibunya, tiba-tiba tangisnya pecah. Ia menangis karena tidak ingin Mbak Difa berhenti mengajarinya. Kesedihan itu muncul begitu dalam—sebuah ekspresi betapa besar arti kehadiran gurunya dalam perjalanan belajarnya.
Kesedihan Ghaida adalah cerminan betapa dalamnya arti kehadiran seorang guru. Dan bagi saya sebagai orang tua, inilah kesempatan untuk mengajarkan nilai penting: bahwa perjalanan belajar selalu diwarnai pertemuan dan perpisahan. Yang terpenting bukanlah seberapa lama kebersamaan itu bertahan, melainkan bagaimana kita menyerap setiap kebaikan yang telah diajarkan.
Ke depan, Ghaida akan harus melanjutkan latihannya dengan cara baru. Tentu Adik harus belajar beradaptasi kembali dengan pelatih lain. Kenangan bersama Mbak Difa akan selalu menjadi pijakan yang kuat. Karena dari seorang guru yang penuh kesabaran, Ghaida tidak hanya belajar berenang—ia juga belajar tentang ketelatenan, kedekatan, rasa percaya diri, dan kini, tentang melepas dengan hati yang lapang.
Sukses terus buat Mbak Difa, semoga dimudahkan dalam menempuh pendidikan, dilancarkan semuanya. Terima kasih atas ilmu yang diberikan kepada anak kami, Ghaida.
📌 Pelajaran Penting yang Bisa Diambil
Ikatan Emosional yang Sehat
Wajar bila anak memiliki keterikatan emosional dengan guru yang sabar dan telaten. Itu tanda bahwa proses belajar tidak hanya berjalan efektif secara teknis, tetapi juga menyentuh sisi psikologis anak.
Guru sebagai Figur Panutan
Anak sering melihat gurunya sebagai figur yang lebih tua sekaligus “teman dekat”. Dari cerita, Mbak Difa berperan bukan hanya sebagai pelatih renang, tetapi juga sosok yang mampu membuat Ghaida percaya diri.
Keterikatan & Risiko Emosional
Keterikatan yang terlalu kuat bisa membuat anak lebih sulit menerima perubahan. Namun, ini juga bagian dari proses belajar emosi: anak belajar bahwa orang-orang yang disayangi tidak selalu bisa hadir terus-menerus, dan ia harus beradaptasi dengan perubahan.
Nilai Pendidikan & Sosial
Dari hubungan ini, Ghaida tidak hanya belajar renang, tetapi juga belajar tentang komunikasi, kedekatan, rasa percaya, bahkan proses melepaskan.
Kesimpulan
Hubungan Ghaida dengan Mbak Difa adalah contoh positif dari bagaimana seorang guru bisa memberi pengaruh besar pada perkembangan anak, baik secara keterampilan maupun emosional. Meski ada sisi kehilangan yang menyedihkan, pengalaman ini justru memperkaya tumbuh kembang anak dalam aspek sosial-emosi.






