Setiap sore sebelum berangkat ke sekolah mengaji, Istriku selalu meluangkan waktu sebentar bersama anak-anaknya. Dia meminta anak-anaknya untuk membuka Buku Iqra’, dan mereka mulai membaca dengan pelan. Ibu menyimak setiap bacaan, membetulkan jika ada yang salah, lalu mengulanginya bersama. Tak ada tekanan, hanya suasana hangat antara ibu dan anak yang saling belajar.
Kebiasaan sederhana ini ternyata membawa banyak manfaat. Selain membantu anak lebih siap saat belajar di tempat mengaji, rutinitas ini juga menumbuhkan rasa percaya diri dan kedekatan emosional. Anak merasa didukung, sementara ibu punya kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses belajar agama anak.
Saat anak berpamitan pergi mengaji, biasanya ibu memberi pesan singkat, “Baca dengan pelan dan teliti, ya.!”. Demi nilai “L” setiap pulang sekolah mengaji. Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa belajar bukan sekadar soal bisa atau tidak, tapi tentang proses dan ketekunan. Dari rutinitas kecil di rumah, nilai-nilai kesabaran, perhatian, dan cinta terhadap ilmu mulai tumbuh dengan alami.
Di tengah kesibukan sehari-hari, momen seperti ini menjadi waktu yang berharga. Lima atau sepuluh menit sebelum berangkat mengaji bisa menjadi kesempatan bagi orang tua untuk menanamkan nilai penting, bahwa ilmu perlu disiapkan, dan ibadah dimulai dari niat yang baik. Tidak perlu waktu lama, yang dibutuhkan hanya kesediaan untuk hadir dan mendampingi.
Kebiasaan ini mungkin tampak sederhana, tapi dari situlah tumbuh fondasi kuat dalam diri anak. Ia belajar bahwa di rumah, selalu ada tempat untuk bertanya, diperbaiki, dan didukung. Dan bagi orang tua, rutinitas ini menjadi pengingat halus bahwa pendidikan terbaik dimulai bukan di sekolah atau tempat mengaji, tetapi dari rumah yang penuh kasih.






