Saat sedang memancing, tiba-tiba terbesit dalam pikiranku satu pertanyaan sederhana: apakah keberuntungan itu sebenarnya takdir? Duduk diam menunggu umpan disambar ikan, rasanya seperti menunggu nasib. Ada yang dapat cepat, ada yang lama, bahkan ada yang pulang tanpa hasil. Dari situ pikiranku mulai berjalan ke mana-mana.
Rasa penasaran itu membuatku mencari-cari jawaban. Aku membaca, mendengar, dan merenung. Sampai akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan yang terasa masuk akal di hatiku: keberuntungan itu memang takdir, namun takdir yang bisa diupayakan. Tidak datang begitu saja tanpa sebab.
Manusia ternyata tidak diminta hanya menunggu. Kita diperintahkan untuk berikhtiar, melakukan usaha semampu yang kita bisa. Seperti memancing, kita menyiapkan alat, memilih tempat, dan bersabar. Soal ikan mau datang atau tidak, itu bukan kuasa kita. Di situlah tawakal bekerja—menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah tanpa kehilangan ketenangan.
Lalu aku sadar, ada satu hal penting yang sering luput: amal saleh. Keberuntungan bukan hanya soal hasil yang terlihat, tapi juga tentang keberkahan. Kebaikan yang dilakukan dengan niat tulus, meski kecil, bisa menjadi jalan datangnya kemudahan yang tak disangka-sangka.
Dari situ aku semakin paham, keberuntungan bukan sekadar nasib baik. Ia adalah bagian dari ketetapan Allah yang hadir lewat ikhtiar, tawakal, dan amal saleh. Sebagai orang biasa yang masih belajar, pemahaman ini membuatku lebih tenang menjalani hidup—fokus pada usaha, menjaga niat, dan percaya bahwa apa pun yang Allah tetapkan, selalu mengandung kebaikan.






