Setiap tanggal 10 November, Indonesia memperingati Hari Pahlawan, momen berharga untuk mengingat, menghormati, dan meneladani jasa para pejuang yang telah mempertaruhkan nyawa, waktu, dan harapan demi masa depan bangsa. Tahun 2025 ini, peringatan tersebut diwarnai dengan tema nasional “Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan.” Tema ini bukan sekadar rangkaian kata, tetapi panggilan agar setiap generasi, dari tua hingga muda, ikut melanjutkan jejak perjuangan melalui keteladanan, aksi nyata, dan semangat yang tak mudah padam.
Bagi saya sebagai seorang ayah, makna Hari Pahlawan terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin dulu para pahlawan berjuang untuk bangsa, tapi sekarang, perjuangan saya adalah untuk mereka: keluarga kecil yang menjadi alasan setiap langkah saya. Seorang ayah mungkin tidak banyak bicara, namun setiap tetes keringatnya adalah bentuk pengorbanan yang nyata. Berangkat pagi, pulang malam, sering kali menahan lelah demi memastikan keluarganya hidup layak dan penuh cinta. Itulah wujud kecil dari semangat kepahlawanan yang terus saya pelajari dan jalani setiap hari.
Bagi seorang ibu sekaligus istri, makna Hari Pahlawan juga terasa dalam dan nyata di setiap kesehariannya. Saya bersyukur memiliki istri yang menjadi pahlawan di sisi lain. Ia mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan cinta tanpa batas. Dari caranya mendampingi anak-anak, saya melihat nilai perjuangan yang sesungguhnya, tenang tapi berpengaruh besar. Ia menyiapkan kebutuhan keluarga, mendidik anak-anak dengan penuh kasih, dan menjaga suasana rumah agar selalu hangat dan damai. Bersamanya, saya belajar bahwa kepahlawanan tidak selalu diukur dari besar kecilnya tindakan, tetapi dari ketulusan hati dalam menjalani peran. Kami berdua ingin anak-anak tumbuh memahami bahwa setiap orang punya perannya sendiri dalam perjuangan hidup.
Bagi anak-anak kami, Hari Pahlawan adalah waktu yang tepat untuk belajar tentang arti perjuangan dengan cara yang sederhana dan dekat dengan kehidupan mereka. Kami sering bercerita tentang para pahlawan bangsa yang berani, jujur, dan pantang menyerah. Namun, kami juga ingin mereka memahami bahwa menjadi pahlawan tidak harus menunggu dewasa. Menjadi pahlawan bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti membantu orang tua, belajar dengan sungguh-sungguh, saling menolong teman, dan menjaga sikap baik kepada siapa pun.
Kami ingin mereka tumbuh dengan hati yang tangguh dan berempati, tidak hanya cerdas tetapi juga berjiwa besar. Setiap kali mereka menunjukkan semangat belajar atau mau berusaha lebih keras, di situlah kami melihat benih-benih kepahlawanan tumbuh. Hari Pahlawan bagi anak-anak bukan sekadar tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang menumbuhkan semangat untuk menjadi pribadi yang bermanfaat di masa depan. Dalam keluarga kecil kami, semangat para pahlawan hidup dalam bentuk yang sederhana, lewat cinta, kerja sama, dan keinginan untuk terus menjadi lebih baik setiap hari.
Hari Pahlawan akhirnya bukan hanya tentang sejarah yang dipelajari, tetapi tentang nilai yang dijalani. Di rumah kami, perjuangan itu hadir setiap hari dalam bentuk yang berbeda: bekerja dengan jujur, mendidik dengan kasih, belajar dengan sungguh-sungguh, dan saling menguatkan di tengah tantangan hidup. Inilah cara kami memaknai Hari Pahlawan, dengan menjadikan keluarga sebagai ladang perjuangan dan tempat menumbuhkan semangat kebaikan yang tak pernah padam.






